You are here: Event Terkait Berita di MIT, Dokter Adams Diperiksa Polda Metro

Terkait Berita di MIT, Dokter Adams Diperiksa Polda Metro

Surel Cetak PDF
4344 readings

portalkriminal_kotak.jpg

PORTALKRIMINAL.COM - JAKARTA: Penyidik Polda Metro , Selasa (20/3/2018) memeriksa dokter Adams Selamat Adi Kuasa Hardiyanto, terkait kasus dugaan penyebaran berita bohong yang dimuat oleh Majalah Tatler Indonesia (MIT) Maret 2017.


Adams yang ditemui di loby Ditrskrimsus Polda Metro Jaya membenarkan kalau dirinya baru saja menjalani pemeriksaan terkait laporan Ello Hardiyanto (63).

“Ya, baru aja selesai diperiksa,” ujar Adams kepada wartawan, Selasa (20/3/2018).

Adams tampak kaget saat dirinya dijepret kamera sesaat usai pemeriksaan. Ia berusaha menghindari sejumlah pertanyaaan yang dilontarkan terkait kasus yang dijalaninya saat ini. “Nanti sama pengacara saya saja ya,” tangkisnya.

Meski mengaku jengkel pada orang tuanya, Adams menyatakan tetap membuka ruang mediasi dengan Ello, orang tua kandungnya.

“Pintu maaf saya selalu terbuka, untuk lebih jelasnya ke pengacara saya saja, ya,” imbuhnya.

Seperti diketahui, pemeriksaan Adam tersebut terkait dengan Ello Hardiyanto (63), yang melaporkan MIT yang diterbitkan PT MS, versi cetak maupun online ke Polda Metro Jaya pada Oktober 2017.

MIT diduga menyebarkan berita bohong dan menggelapkan asal-usul. Majalah itu menyebarkan foto yang menjelaskan sebagai orangtua Adams, padahal orang yang ada di dalam foto itu bukanlah Ello Hardiyanto, orangtua kandung Adams.

Atas kasus itu, Polda Metro Jaya sudah memeriksa juga pimpinan MIT, yakni Maina Harjani (Managing Editor), Paulina Nani (pimpinan produksi) dan Oktaviana Subarjo (Sekretaris Redaksi). Kemudian memeriksa juga Millie Stephani (pimpinan dan sekaligus pemilik PT MS). PT MS ini juga menerbitkan Majalah Forbes dan sejumlah majalah mewah lainnya.

Ello dalam melapor didampingi advokat Dr. Ir. Albert Kuhon, MS, SH bersama Iskandar Siahaan, SH dan Alfon Sitepu, SH.

Mereka pada pertengahan Oktober
2017 mengadukan penggelapan asal-usul orang dan dugaan penyebaran berita bohong. Dia menduga tindak pidana itu dilakukan pihak redaksi MIT bersama beberapa orang lain.

Ello saat diperiksa penyidik, beber Kuhon menjelaskan,  bahwa MIT edisi Maret 2017 versi cetak dan versi online,

mempublikasikan foto resepsi perkawinan Adams Selamat Adi Kuasa Hardiyanto dengan Clarissa Puteri Wardhana, pada 15 Januari 2017 di Hotel Mulia, Jakarta Pusat.

MIT edisi Maret 2017 versi cetak maupun online memberitakan resepsi itu dan memajang sejumlah foto disertai teks dalam bahasa Inggris yang intinya berbunyi “kedua mempelai bersama orangtuanya masing-masing”.

Foto itu menggambarkan enam sosok. Berdiri di tengah adalah Adams dan Clarissa Puteri Wardhana (mempelai), paling kiri Yansen Dicky Suseno dan Inge Rubiati Wardhana (orangtua Clarissa), dan sosok yang bertindak seolah-olah sebagai orangtua Adams berdiri pada posisi paling kanan.

Caption foto mempelai Adams bersama ‘orangtuanya’ di MIT itu membuat banyak pihak bertanya-tanya kepada Ello Hardiyanto dan
istrinya Gina.

Akibatnya, awal Mei 2017 Ello menghubungi Redaksi MIT. Ia menyampaikan koreksi dan minta hak jawab sebagaimnana dijamin UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Maina A. Harjani, Redaktur Pelaksana MITr, awal Mei 2017 mengakui kesalahan redaksi dan menjanjikan kepada Ello koreksi (ralat) atas berita foto itu dalam edisi berikutnya.

Ternyata Maina ingkar janji dan Redaksi MIT tidak memenuhi janji publikasi ralat itu. Akibatnya, akhir Juli 2017 Ello mengadu kepada Dewan Pers.

Dewan Pers

Dalam Penilaian Pernyataan dan Rekomendasi (PPR) No 26/PPR-DP/X/2017 tertanggal 9 Oktober 2017 tentang pengaduan Ello Hardiyanto, Dewan Pers menyatakan bahwa MIT tidak menjalankan fungsi pers sebagaimana diatur dalam UU No 40/1999 tentang Pers.

Selain itu, dalam pemeriksaan Dewan Pers menemukan bahwa PT MS yang menerbitkan MIT, sebetulnya bukan perusahaan pers. Melainkan perusahaan yang antara lain bergerak dalam bidang travel, wedding organizer dan perdagangan umum.

Belakangan Sekretaris Redaksi MIT memberitahu kepada Ello bahwa pihaknya memang tidak memenuhi permintaan hak jawab Ello. Hal itu disebabkan Adams melarang redaksi mengoreksi pemberitaan dalam edisi Maret 2017.

Sikap Adams dituangkan dalam imel yang dikirimkan kepada Redaksi MIT, Mei 2017. Adams menyatakan dirinya bertanggungjawab atas pemberitaan itu.

Selain menulis imel tersebut, akhir Mei 2017 Adams yang sebenarnya anak kandung Ello dan Gina Kalalo, mengiklankan pemutusan hubungan keluarga dengan orangtuanya melalui dua suratkabar.

Atas hal imel Adam, kuasa hukumnya, Irawan, SH dan Pardede SH, dalam kasus laporan Adams kepada Ello di Ditreskrimum pun menjelaskan, tak ada salahnya Adams memutuskan hubungan keluarga.

Pemutusan hubungan keluarga itu
telah dipertimbangkan dengan berat hati oleh dr. Adams, namun terpaksa karena perbuatan orangtua kandung (Ello Hardiyanto) sungguh diluar kewajaran sebagai seorang ayah kandung, bahkan setelah diumumkannya putus hubungan keluarga tersebut, Ello Hardiyanto membuat berita-berita yang tidak benar sehingga menjadi sebuah fitnah dan pencemaran nama baik dr. Adams. Semuanya itu berujung dilaporkannya Ello ke Polda Metro Jaya oleh Adams.

Untuk diketahui, informasi yang didapat di Polda Metro Jaya, menyebut sebetulnya Adams dijadwalkan diperiksa sebelumnya. Dan juga minta diperiksa di luar Polda Metro Jaya, namun atas pertimbangan tertentu, pihak penyidik menolak permintaan kuasa hukum Adams dan diperiksa  Selasa (20/3/2018).

Bersengkongkol

Sebelumnya, Albert Kuhon yang mendampingi Ello selaku pelapor menduga Redaksi MIT
bersekongkol dengan pihak-pihak yang ada dalam foto itu, maupun pihak-pihak yang menyuruh peliputan.

“Mereka patut diduga melakukan pidana secara bersama-sama atau penyertaan (delneming) penyebaran berita bohong atau pencemaran nama baik,” kata Kuhon

Kuhon menjelaskan juga, pengelola MIT versi online dapat diduga melanggar pasal 28 Ayat (1) jo. Pasal 45A  Ayat (1) Undang-undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sebagaimana telah diubah oleh Undang-undang No. 19 tahun 2016.

“Pasal itu menyatakan pihak yang menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik diancam pidanapenjara enam tahun dandenda Rp 1 miliar,” ujarnya.

Menurut Kuhon, jika terbukti bukan perusahaan pers, pimpinan PT MS yang menerbitkan Majalah Indonesia Tatler maupun pihak redaksinya juga melanggar Pasal 27 Ayat (3) jo. Pasal 45 Ayat (3) UU ITE.

“Pihak yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan, mentransmisikan informasi atau dokumen elektronik yang bermuatan penghinaan atau pencemaran nama baik diancam pidana penjara 4 tahun dan denda Rp 750 juta,” tutur Kuhon pula.

Pihak MIT yang berusaha dikonformasi terhadap masalah ini masih menemui kendala karena sulit ditemui. (jak)




Berita Terkait: