Selasa, 07 September 2010
Menelisik Seks Pelajar di Internet [3] PDF Cetak E-mail
Rabu, 23 Desember 2009 22:15

Oleh:  Reza Wartawan Portalkriminal.com
INTERNET menyediakan kesempatan bertemunya antarpribadi, tidak pandang tempat, karena aksesnya dapat dilakukan di mana-mana. Pirantinya pun semakin portable, rahasia juga bisa terjaga.

Kalau di rumah tidak ada akses internet, mereka bisa datang ke warnet-warnet yang kian menjamur di mana-mana. Bahkan, seringkali boks sebuah warnet didesain sangat pribadi, sehingga tanpa rasa ewuh- pakewuh dan malu, penggunanya bisa berselancar di dunia maya secara bebas.

Memang tidak semua warnet didesain seperti itu dan tidak untuk melayani kebutuhan para pemburu seks. Kalaupun dirancang dengan mengutamakan privasi, itu pasti dibuat pemiliknya demi memberi kenyamanan pelanggan.

Apa pun situasinya, semua tak menghalangi para pelajar putri maupun pria pemburu seks berselancar untuk menemukan calon teman kencannya. Bahkan, ada sebuah sekolah kejuruan di Jakarta yang siswi-siswinya membentuk sebuah genk, yang secara bergantian mengakses internet, kemudian saling berbagi informasi antarteman.

Itu mereka lakukan untuk mengurangi volume kunjungan mereka ke warnet, agar tidak dicurigai oleh orangtua. “Jadi, kami ke warnet bergantian. Kalau kemudian ada yang dapat cowok tajir, kami diskusikan siapa dulu yang akan menemuinya. Ini istilahnya saling ‘umpan lambung’, saling bertukar kenalan,” kata Wulan, bukan nama sebenarnya, siswi sebuah SMA di Jakarta Timur.

Karena calon teman kencan tidak didapat dari diri sendiri, kehati-hatian menjadi hal penting yang harus mereka lakukan. Mereka tak mau si pria itu ternyata masih orang dekatnya sendiri.

Bagaimana mereka “mengamankan” diri dari kemungkinan itu? Macam-macam cara dilakukan. Langkah pertama biasanya mereka minta foto si pria itu, yang bisa dilihat di Friendster atau sejenisnya, juga nomor teleponnya. Langkah berikutnya, ketika pertemuan terjadi, mereka tidak langsung menemui si pria.

“Saya lihat dulu dari jauh, sambil telepon-teleponan, tanya di mana dia duduk. Kalau ‘aman’ barulah saya menemuinya,” kata Wulan.

Apakah setelah itu mereka mau diajak ke hotel? “Ya lihat-lihat dululah, kalau orangnya asyik ya gak apa-apa langsung ke hotel. Tapi, kalau orangnya gak asyik ya cukup makan-makan saja,” katanya.

Kehati-hatian itu cukup bberalasan. Bagi Wulan, selain khawatir bertemu dengan keluarga atau teman dekat, dia pernah mendapatkan pengalaman buruk. “Saya pernah ditinggal di hotel setalah berkencan. Dia pamit mau cari makan, eh tidak balik lagi,” katanya.

“Yang kacau lagi teman saya, dia ketemu teman papanya. Mampus gak dia?” cerita Wulan.

Mengingat hal itu, demi keamanan bersama, di antara teman satu genk mereka saling melakukan sharing. (bersambung)

 


Berita Terkait:


PORTAL FOTO


JAKARTA, 6/9 - PENUMPANG LIAR. Puluhan penumpang duduk di atas gerbong sebuah KRL yang melintas di Stasiun Gambir, Jakarta, Senin (6/9)..(ant)
KARO, 6/9 - AMATI GUNUNG SINABUNG. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) didampingi Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono (kiri) mengamati Gunung Sinabung dengan lensa khusus di Kabupaten Karo, Sumut, Senin (6/9).(ant)
JAKARTA, 6/9- PENGAMANAN TERMINAL. Polisi berjaga-jaga di depan Terminal Pulogadung, Jakarta, Senin ( 6/9). Pengamanan tersebut dalam rangka mengantisipasi situasi sejalan dengan peningkatan jumlah calon penumpang di terminal tersebut menjelang Idul Fitri.(ant)