|
oleh : Frank William Disciplinary Focus (Fokus Disipliner) Kriminologi pada umumnya dipahami sebagai anak cabang dari disiplin ilmu sosiologi. Sementara, sebagai bantahan, pernyataan tersebut melalaikan baik sejarah ilmu kriminologi juga disiplin bidang lainnya yang mencakup luasnya bidang ilmu tersebut. Pada satu saat tertentu, disiplin ilmu filosofi, sejarah, antropologi, psikologi, psikiatri, kedokteran, biologi, genetika, endokrinologi, neurokimia, ilmu politik, ekonomi, kerja sosial, geografi, perencanaan kota, arsitektur, dan statistik semuanya memainkan peran yang menentukan dalam perkembangan teori dan penelitian kriminologi.
Namun, sejak tahun ‘30-an, bagaimana pun, sosiologi telah menjadi sumber utama dalam dalam pelatihan akademis bagi kebanyakan kriminolog. Terdapat sangat sedikit departemen kriminologi di Amerika Serikat dan sebagian besar kriminolog yang telah mengambil tempat dalam departemen sosiologi. Meskipun demikian, dalam fokus sosiologis haruslah dikenali bahwa kriminologi tersusun dari integrasi yang saling berhubungan dari berbagai disiplin ilmu.
Muncul dan bangkitnya, melalui tiga dekade terakhir pengembangan dan peningkatan ini, lapangan multidisipliner dari peradilan pidana telah menantang sosiologi sebagai dasar pelatihan bagi kriminologi, dan banyak kriminolog kini bekerja dalam atau menerima pelatihan akademik mereka dari departemen peradilan pidana. Gerakan ini menjanjikan kriminologi sosiologis secara langsung berintegrasi dengan disiplin ilmu yang lain.
Dalam disiplin ilmu kriminologi umum terdapat beberapa bidang yang menarik minat. Dalam bentuk umumnya mereka berpadu dengan bidang lain, seperti filsafat hukum, sosiologi hukum, sosiologi penyimpangan, hukum pidana, ilmu kepolisian, administrasi, dan ilmu kependudukan, yang memungkinkan, kemudian, untuk mengenali seseorang sebagai kriminolog dan masih menghabiskan seluruh karir pekerjaannya dalam bidang yang relatif kecil, seperti kepolisian.
Criminology Academia (Kriminologi di Lingkungan Akademik) Karena disiplin ilmu ini sangat berkaitan erat dengan sosiologi, terdapat sangat sedikit departemen kriminologi di kampus dan universitas di Amerika pada akhir tahun ‘60-an. Pada kenyataannya, kebanyakan cara yang paling umum untuk memasuki bidang kriminologi adalah dengan jurusan pendidikan di sosiologi dengan program khusus kriminologi.
Hingga kira-kira tahun 1970, hanya tiga sekolah besar, University of California di Berkeley, Florida State University, dan University of Maryland, memiliki program doktor di bidang kriminologi (universitas tertua di antara ketiganya mengetuai program administrasi kepolisian). Jumlah sekolah yang menawarkan pendidikan tinggi kriminologi hingga hari ini ada 4. Program di Berkeley telah hilang, mulai ditiadakan pada pertengahan tahun ‘70-an. Dua program baru yang disebut sebagai ilmu krimonologi kini ada di University of Delaware dan Indiana University di Pennsylvania. Pendekatan yang terkini tampaknya merupakan bentukan dari program doktoral dalam peradilan pidana, dan kini ada beberapa lusin dari program serupa. Yang jelas, kini terdapat sedikit pembedaan antara kriminologi dan program doktoral peradilan pidana.
The Development of Criminology (Perkembangan Kriminologi) Kriminologi, yang merupakan bentuk umum dari studi yang berkaitan dengan tindak pidana dan pelaku tindak pidana, dapat diusut ke sejarahnya di masa lampau. Namun, kini kriminologi hanya merupakan perkembangan studi yang sistematis. Mungkin perkiraan yang paling tepat dari “kelahiran” kriminologi berkisar dari munculnya periode Eropa klasik pada abad ke-18.
Arah sesungguhnya dalam periode itu bukan studi tentang kejahatan, melainkan sistem peradilan itu sendiri. Dengan hukum yang sewenang-wenang dan banyak tingkah, penulis pada masa itu (Montesquieu, Voltaire, Beccaria, Bentham) mengkritik sistem peradilan dan menyarankan perombakan besar-besaran. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sekolah Klasik kriminologi, ide para reformer ini menjadi dasar bagi undang-undang kriminal dan sistem peradilan saat ini, dan menciptakan konsep modern.
Pada abad ke-19 studi mengenai tindak pidana dan pelaku tindak pidana mulai sungguh-sungguh dipelajari. Kota Quetelet di Prancis, Guerry di Belgia, dan Mayhew di Inggris mempelajari dan memetakan penyebaran tindak pidana dalam studi nyata pertama yang menggunakan statistik sosial. Kelompok masyarakat lain di bawah kepemimpinan Gall dan Spurzheim terlibat dalam studi phrenology (hubungan konfigurasi otak—sebagai bagian dari struktur otak—terhadap perilaku) dan menghasilkan beberapa studi keilmuan awal tentang pelaku tindak pidana. Namun, awal ilmu kriminologi yang diterima oleh umum terjadi di tahun 1870-an dengan adanya kerja seorang dokter Italia, Cesare Lombroso.
Dengan “Sekolah Positif”nya, Lombroso bekerja atas hubungan keterkaitan bentuk fisik, kepribadian, dan pelaku tindak pidana yang melahirkan teori pelaku tindak pidana “bawaan” dan mengembangkan studi tentang genetika dan studi tentang turun-temurun. Selama periode inilah istilah kriminologi menjadi populer dipakai. Diikuti oleh dua orang Italia lainnya, Ferri dan Garofalo, kerja Lombroso diperluas hingga bahasan ke faktor sosial dan lingkungan. Dengan berkembangnya sosiologi sebagai disiplin ilmu di tahun 1890-an, ilmu kriminologi makin meluas. (bersambung)
|