|
oleh: Sadono Priyo Wajah keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) Jakarta sepanjang 2009 masih buram. Berbagai tindak kejahatan dengan kekerasan seperti pembunuhan dan penganiayaan terus mewarnai Tahun Kerbau ini. Kendati tidak sedikit prestasi yang ditorehkan Polda Metro Jaya dengan mengungkap berbagai jenis tindak pidana, masih banyak warga dihantui ketakutan lantaran jaminan keamanan belum didapatkan.
Dari 70 kasus jenis kasus, Polda Metro Jaya menggolongkan ada 10 kasus kejahatan menonjol di Ibu Kota, yakni curas (pencurian dengan kekerasam/rampok), curat (pencurian dengan pemberatan), anirat (penganiayaan berat), serta pembunuhan. Kemudian juga curanmor (pencurian kendaraan bermotor), judi, pemerasan, perkosaan, narkotik, dan kenakalan remaja.
Dari kesepuluh kasus itu, pembunuhan dan perampokan dinilai menjadi perhatian mengingat dampak yang ditimbulkan cukup luas. Itu sebabnya pimpinan Polri menginstruksikan kepada seluruh kapolres dan kapolsek, sebagai pemegang kendali di satuan wilayah, untuk mampu mengusut setiap kasus pelanggaran berat HAM itu sampai tuntas.
Pada sepanjang 2009 tercatat 71 kasus pembunuhan. Dibanding tahun sebelumnya mengalami penurunan 11,25 persen. Dari 71 kasus tersebut, 90 persen kasusnya terungkap (crime clearence). "Memang terjadi penurunan (kuantitas). Tapi, secara kualitas, makin memprihatinkan," kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Wahyono.
Kasus yang menyedot perhatian publik adalah pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasruddin Zulkarnaen. Kasus yang terjadi di kawasan Lapangan Golf Modernland, Kota Tangerang, Maret 2009 lalu, itu mengantarkan Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Selain itu juga diduga melibatkan mantan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Wiliardi Wizard dan pengusaha Sigid Haryo Wibisono.
Operator lapangan sendiri sudah divonis bersalah di PN Tangerang, yaitu Jerry Hermawan Lo, serta lima eksekutor Daniel Dang Sabo, Heri Santosa, Fransiskus Tadon Kerans alias Amsi, Hendrikus Kia Walen, dan Eduardus Ndopo Mbete yang sudah dijatuhi hukuman 17 tahun hingga 18 tahun.
Kemudian, kasus pembunuhan disertai mutilasi (dipotong-potong) terhadap Hendra Burung. Kasus ini terungkap dengan tertangkapnya istri Hendra, yaitu Rumiyati, yang kemudian divonis hukuman seumur hidup oleh PN Jakarta Barat. Begitu juga kasus pembunuhan sadis terhadap Kun Surati (40), warga Jalan Madrasah, Cilandak, Jaksel. Mayatnya ditemukan dalam koper di bagasi bus jurusan Merak-Tasikmalaya. Tersangka Ilman Zaenudin, yang akhirnya tertangkap, mengaku membunuh karena kesal akibat korban ingkar janji dengan fee yang seharusnya diberikan kepada Ilham.
Lalu kasus pembunuhan Maria Fransiska Bernadet Hellen (23) cukup membuat heboh. Mantan bintang iklan itu ditemukan di lantai tujuh Gedung Pacific Place, kawasan perniagaan SCBD, Semanggi, Jakarta Selatan, Selasa (17/3) malam. Pelakunya juga akhirnya tertangkap yakni seorang satpam bernama ML bin SL dengan motif ekonomi. Juga kasus ditemukannya mayat bernama Sri Mukti (40) di dalam lemari dan dibuang di Kampung Perigi RT 01/06, Kelurahan Cikuwul, Bantar Gebang, Bekasi, Kamis (26/2); pembunuhan Novita Permata Sari dan Setyanti Dwiretno (20/9), dua-duanya terjadi di Apartemen Mediterania. Ketiga kasus menonjol itu terungkap dengan pelaku ternyata orang dekat dengan korban.
Sedangkan untuk kasus curas, Polda Metro mencatat terdapat 973 kasus dan berhasil diselesaikan 684 kasus atau 49,74 persen. Kasus yang menonjol yaitu perampokan mobil pengantar jasa membawa uang milik PT Sisco yang dirampok di Jalan Tol Soekarno-Hatta pada 17 Juli 2009. Uang Rp 15 miliar dibawa kabur komplotan penjahat yang berpura-pura menabrak mobil PT Sisco. Kasus ini terungkap setelah sopir Sisco terlacak keberadaannya dan melibatkan 12 tersangka.
Kemudian perampokan uang nasabah BCA di Jalan Raya Jababeka Cikarang, Bekasi (29/1). Komplotan bersenjata api membawa kabur uang nasabah BCA Rp 500 juta. Perampokan Toko Emas "Liong" di Pasar Pesing, Jakarta Barat (21/8) di mana penjahat merampas perhiasan senilai Rp 240 juta. Kedua kasus ini akhirnya terungkap.
Beban Stres
Menanggapi masih maraknya pembunuhan dan curas, kriminolog Erlangga Masdiana mengatakan, saat ini telah terjadi pergeseran etika dalam dunia kejahatan. Pembunuhan dan perampokan dijadikan cara ampuh untuk mencapai tujuan. Ia juga menyebut tingkat stres masyarakat makin tinggi. Orang makin individualis, sistem kegotongroyongan makin menurun. "Kondisi ini yang harus mendapat perhatian semua pihak, tidak hanya polisi. Kalau tekanan yang dihadapi makin kuat, biasanya orang berpikir sempit dan memilih jalan kekerasan sebagai solusi menjadi jitu," kata staf pengajar Universitas Indonesia itu.
Secara umum, Kapolda Metro Jaya menilai kondisi kamtibmas Ibu Kota dan daerah-daerah penyangga cukup terkendali. Indikasinya terlihat dari tetap terjaganya keamanan pada beberapa event besar di sepanjang 2009, seperti seluruh rangkaian kegiatan Pemilu 2009, pengamanan kunjungan Menlu Amerika Serikat Hillary Clinton, peringatan Hari Buruh Nasional, pascabom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton, Sidang Umum MPR melantik presiden dan wakil presiden, serta Hari Antikorupsi 9 Desember 2009.
Ia menyebut, tingkat penyelesaian kasus mengalami penurunan sebesar 10,20 persen tahun 2009. Dari jumlah kasus yang masuk, sepanjang 2009, pihaknya telah menyelesaikan 28,524 kasus dari jumlah 31.765 kasus yang diselesaikan sepanjang 2008. Penurunan jumlah kasus sebanyak 3.241 kasus atau sebesar 10,20 persen.
Sedangkan untuk risiko penduduk yang terkena tindak pidana atau crime rate, sepanjang 2009 mengalami penurunan dari 262 untuk 2008 menjadi 236 orang. Artinya, terjadi penurunan sebanyak 26 orang atau sebesar 7,25 persen. Jadi, dari 100 ribu orang sepanjang 2009 terdapat 236 orang terkena kasus tindak pidana.
Sedangkan tindak pidana pencurian dengan kekerasan mengalami penurunan dari 1.289 kasus pada 2008 menjadi 973 kasus pada 2009. Untuk kasus pencurian dengan pemberatan, juga mengalami penurunan dari 7.475 kasus pada 2008 menjadi 6.643 kasus pada 2009. Artinya, terjadi penurunan sebesar 11,13 persen.
Tren kejahatan 2010 diprediksi tidak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya. Tindak kejahatan jalanan (street crime) dan kejahatan kerah putih (white collar crime) masih menjadi pekerjaan rumah yang belum ada habisnya.. Polda juga dihadapkan pada dinamika situasi kamtibmas pasca-Pemilu 2009 yang makin meningkat. Selain itu, polisi juga bakal menghadapi modus kejahatan yang makin canggih seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi serta tuntutan akan keterbukaan informasi dalam pelaksanaan tugas Polri, sejalan dengan UU No 14 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. (Pemerhati Masalah Kriminal)
|