Selasa, 07 September 2010
Criminology (Kriminologi- 4) PDF Cetak E-mail
Sabtu, 16 Januari 2010 22:28

oleh : Frank William
Teori struktural, di sisi lain, adalah teori yang menekankan pada pengaruh dari lingkungan (dan lembaga yang ada) terhadap masyarakat dan menjelaskan mengapa kelompok yang berbeda memiliki tingkat kriminalitas yang berbeda. Akibatnya, teori struktural biasanya bernada sosiologis. Teori jenis inilah yang telah paling sukses memberikan penjelasan yang masuk akal tentang kejahatan dalam masyarakat, tetapi tidak menjelaskan pada kita individu mana yang melakukan tindak pidana.

Kriminologi epidemiologis memberikan pemahaman tentang bagaimana (dan terkadang mengapa) angka kejahatan bervariasi dalam berbagai kelas masyarakat atau berbagai waktu dan tempat. Kita telah mempelajari, misalnya, bahwa kelas masyarakat tertentu lebih banyak ditahan atas tindak pidana yang dilakukannya (yaitu mereka yang memiliki tingkat kejahatan yang lebih tinggi). Lebih jauh lagi, kita tahu bahwa tingkat kejahatan bervariasi sesuai kondisi lingkungan tertentu dan wilayah geografis. Epidemiologi juga meliputi studi terjadinya insiden kejahatan dalam berbagai kondisi, baik ekonomi, sosial, atau politik. Kriminolog telah mencatat jumlah kejahatan dalam berbagai tipe struktur politik, dalam waktu ekonomis yang berbeda, dan yang kini lebih banyak memperhatikan jumlah jatuhnya korban dan ketakutan akan adanya tindak pidana dalam masyarakat.

Kriminologi yang mempelajari sistem peradilan pidana memberi kita informasi tentang bagaimana sistem bekerja, seberapa dekat kenyataan memenuhi harapan kita, dan alternatif mana yang dapat mempertemukan keduanya. Tipe kriminologi ini barangkali paling tepat dianggap sebagai studi “kerja sistem.” Studi tentang komponen yang bervariasi dalam sistem peradilan pidana itu bertentangan dengan pengujian struktur formal, dan dicirikan dengan studi tentang struktur informal. Pendeknya, memfokuskan pada cara kerja yang sebenarnya, bukan cara kerja seperti yang dikira orang.

Jadi, para kriminolog yang bekerja di bidang ini telah mempelajari kegiatan lembaga kepolisian, hubungan antara polisi dan warga, sistem jaminan, tawar-menawar pembelaan, dan struktur sosial dari penjara, untuk menyebut beberapa bidang minat. Yang terakhir, karena ketiadaan penggolongan yang lebih baik, kita juga dapat menempatkan para kriminolog yang tertarik pada teori hukuman dalam kategori ini. Beberapa topik terkini dalam bidang ini adalah hukuman mati, pelumpuhan selektif, penjahat karir, dan penyusunan garis besar hukuman.
Relationship Between Criminology and Police Science (Hubungan antara Kriminologi dan Ilmu Kepolisian)

Bersamaan dengan berkembangnya ilmu kriminologi di Amerika Serikat muncul pula bidang ilmu kepolisian. Sebenarnya, departemen ilmu kepolisian telah ada lebih dahulu dibanding departemen kriminologi di kampus dan universitas. Karena sering sulit untuk mencirikannya satu sama lain, departemen ilmu kepolisian biasanya lebih mengkhususkan diri pada aspek kepolisian: kepengurusan, manajemen, analisis tindak pidana, dan “pelaksanaan” penegakan hukum. Kriminologi, saat berhadapan dengan bidang wewenang polisi, lebih sering menggunakan penekanan “kerja sistem.” Dengan begitu, pendekatan ilmu kriminologi terhadap masalah kepolisian cenderung ke arah kemasyarakatan secara alami dan memusatkan perhatian pada struktur informal dan hubungan.

Contributions of Criminology to Police Work (Sumbangan Kriminologi kepada Kerja Kepolisian)
Karena ilmu kriminologi sulit dipisahkan dari ilmu kepolisian di awal perkembangannya, seseorang mungkin mendebat bahwa beberapa dukungan ilmiah pertama datang dari sumber lain. Meskipun begitu, tinjauan mengenai tiga dekade pertama Journal of Criminal Law and Criminology menyarankan bahwa banyak kepolisian pada saat ini dikembangkan dari penelitian yang dimulai pada awal abad ke-20. Artikelnya meliputi pelatihan, pemilihan petugas, psikotes, dan penggunaan teknologi, sidik jari, dan sebagainya. Tampak jelas juga bahwa bermacam teknik analisis tindak pidana memiliki bentuk aslinya pada awal pekerjaan statistik kejahatan.

Dari kelompok yang lebih kontemporer, karya kriminologis dari Egon Bittner, Albert Reiss, Jerome Scolnick dan Peter Manning telah menemukan suatu jalan untuk pelatihan polisi dan kerja hubungan kemasyarakatan. Dengan cara yang sama, karya ilmuwan politik James Q Wilson, yang memiliki pandangan sebagai kriminolog, juga memiliki akibat praktik administrasi kepolisian.

Penelitian produk ketidaktaatan warga sipil dan studi mengenai korban telah mengubah proses pemilihan polisi dan menciptakan suatu penekanan pada pendidikan. Pekerjaan terakhir yang dilakukan para kriminolog telah mengarahkan banyak departemen kepolisian untuk berpikir kembali mengenai beberapa konsep dasar mereka. Kansas City Preventive Patrol Experiment dari Kling menyebabkan seluruh negara memikirkan kembali mengenai prosedur patroli mereka. Beberapa penyelidikan mengenai selang waktu reaksi menyarankan bahwa reaksi yang cepat terhadap panggilan dari semua warga negara tidak penting, dan selang waktu reaksi tidak sepenting yang dipikirkan orang ketika akan melakukan penangkapan.

Penelitian Sherman dan Berk tentang panggilan sergapan massal mendorong kearah perubahan dalam hal reaksi dan kebijakan penahanan terhadap panggilan yang mengganggu. Penelitian yang dilakukan Rand Corporation dan Police Executive Research Foundation terhadap kinerja detektif dan penyelesaian kasus tindak pidana memberikan hasil berupa pemberian tanggung jawab lebih besar dalam proses penyelidikan dan cara baru untuk menjaring kasus kepada petuga spatroli. Sebuah teori ilmu kriminologi, sebagai kegiatan rutin, telah mempercepat pendekatan analisis yang baru untuk menentukan tempat tindak pidana dilakukan, yang dikenal sebagai “titik panas.” Dan akhirnya, hasil kerja Herman Goldstein, terutama dalam bukunya Problem-Orientad Policing, mempengaruhi banyak departemen kepolisian untuk tidak menggunakan cara tradisional sebagai variasi dalam komunitas kepolisian.

Simpulan, kriminologi tidak hanya terfokus pada polisi dengan berbagai pengertian tetapi mempunyai sebuah efek yang lebih dalam yang mencakup perubahan menurut pandangan klasik tentang sistem operasi peradilan pidana dan falsafah di balik teknik yang digunakan departemen kepolisian saat ini. Dengan memberi tekanan saat ini pada sistem pengujian dan riset yang efisien, cukup beralasan untuk menyimpulkan bahwa polisi dan para penyelidik akan terus membangun kerja sama mereka. Tentu saja, di antara komponen dari sistem peradilan pidana saat ini, polisi benar-benar sangat mengandalkan riset kejahatan dalam membuat perubahan penting dalam struktur dasar dan metode pengoperasian. (selesai)

 


Berita Terkait:


PORTAL FOTO


JAKARTA, 6/9 - PENUMPANG LIAR. Puluhan penumpang duduk di atas gerbong sebuah KRL yang melintas di Stasiun Gambir, Jakarta, Senin (6/9)..(ant)
KARO, 6/9 - AMATI GUNUNG SINABUNG. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) didampingi Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono (kiri) mengamati Gunung Sinabung dengan lensa khusus di Kabupaten Karo, Sumut, Senin (6/9).(ant)
JAKARTA, 6/9- PENGAMANAN TERMINAL. Polisi berjaga-jaga di depan Terminal Pulogadung, Jakarta, Senin ( 6/9). Pengamanan tersebut dalam rangka mengantisipasi situasi sejalan dengan peningkatan jumlah calon penumpang di terminal tersebut menjelang Idul Fitri.(ant)