|
Oleh : Sadono Priyo*
Penyerbuan kamp teroris di Bukit Jalin, Jantho, Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), akhir Februari lalu, dan tertembaknya teroris paling dicari Dulmatin alias Joko Pitono (40) di Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa (9/3) silam oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri (Densus 88) merupakan tonggak sejarah penting dalam pemberantasan terorisme di Indonesia. Pasalnya, pasca-Bom Bali I 12 Oktober 2002, Indonesia diketahui merupakan ladang subur bagi tumbuhnya kelompok teroris. Kelompok-kelompok teroris telah membangun kekuatan untuk mewujudkan perjuanganmya pascatumbangnya Orde Baru. Sebut saja konflik di Ambon (Maluku) dan Poso (Sulawesi Tengah). Mereka menciptakan teror dan konflik horizontal di tempat-tempat yang terkenal dengan keberagamannya. Tujuannya ialah untuk melemahkan keamanan dalam negeri, sehingga kegiatan mereka menjadi leluasa.
Karena itu, keberhasilan Densus 88 perlu mendapat apresiasi tersendiri. Namun, keberhasilan itu juga menyisakan banyak pertanyaan. Mengapa kelompok-kelompok teroris terus merongrong keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), siapa saja tokoh-tokohnya, dan apakah perangkat hukum kita mampu mengikis habis keberadaan mereka?
Menurut pengamat masalah terorisme Dyno Creessbon, dalam penyerangan di Aceh dan Pamulang, ada dua tokoh besar yang menemui ajal, yaitu Dulmatin dan Jaja. Dulmatin jadi buron Polri sejak peristiwa Bom Bali 2002, sedangkan Jaja merupakan pentolan Tanzim Al Qaidah Aceh. Sisanya, baik yang tertangkap maupun ditembak, merupakan kroco.
Masih banyak gembong teroris yang belum tertangkap (DPO), misalnya Abdullah Sunata (Ambon), Umar Pathek (Bom Bali), dan Zulkarnain (Jamaah Islamiyah). Kemudian ada juga Mustaqim (JI), Slamet Saputra (Negara Islam Indonesia), Makruf (Kompak), Ubaia (Poso), Maulana dan lain-lain. Mereka berasal dari berbagai faksi yang kemudian melakukan konsolidasi saat berencana menyusun serangan. Konsolidasi pernah dilakukan ketika pengeboman gereja pada malam Natal tahun 2000 dan rumah Dubes Filipina. Latihan perang di Aceh, kemarin, juga merupakan bentuk konsolidasi besar tersebut.Sepeninggal Dr Azahari dan Noordin M Top, bentuk teror yang dikembangkan kelompok teroris tidak lagi bom bunuh diri. Karena tidak semua kelompok teroris setuju dengan cara yang ditempuh Noordin M Top. Seperti kelompok teroris Poso dan Ambon. Mereka lebih memilih metode assassination (pembunuhan), merampok, menyerang kantor LSM, perwakilan PBB, dan pejabat tinggi.
Di Aceh, Dulmatin menggodok anggotanya dengan kemampuan militer dari berbagai latar belakang. Ia menganggap daerah ini sebagai basis baru karena kondisi di Aceh memungkinkan. Apalagi, provinsi ini menerapkan hukum syariah dan pernah muncul gerakan garis keras Republik Islam Aceh (RIA). RIA berseberangan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang bersifat sekuler.
Dulmatin merupakan alumnus Perang Afghanistan. Ia bersama Umar Pathek kabur ke Filipina karena diburu polisi setelah Bom Bali I. Ia kembali masuk ke Indonesia sejak Mei 2009 melalui jalur tradisional, yakni Sangihe Talaud, Sabah, dan Tarakan. Mereka bisa menyusup tanpa terdeteksi aparat karena wilayah perbatasan Indonesia, Filipina, dan Malaysia amat luas, sehingga aparat sulit menjangkau seluruhnya. Begitu juga Umar Pathek. Ia masih berkeliaran di Indonesia. Dulmatin dan Umar Pathek berhubungan dengan komandan JI di Asia Tenggara, Zulkarnain, yang tinggal di Filipina Selatan. Dulmatin bertugas menggalang logistik, termasuk memasok bahan peledak. Dia masuk ke Indonesia untuk mencari dukungan dana. Sedangkan Umar Patek dan Zulkarnain mengoordinasi sel-sel teroris di lapangan. (* Pengamat Kriminal)
|